Blog ini...

sering gonta-ganti templete dan berisi cerita penting nggak penting saat terkena atau tidak terkena badai hormonal

Jumat, 23 Oktober 2009

Tidak segampang itu bicara....



Beberapa hari yang lalu, seorang adik kelas menghubungi dan meminta saya untuk jadi pembahas di sebuah seminar tentang hutan rakyat. Pembahas ? Iya, pembahas. Tugasnya mengupas materi yang disampaikan pembicara, menguji kesahihannya, memberi saran dan masukan, mempertanyakan argumentasinya. Duh, kok seperti dosen penguji ya. Terang saja itu bukan keahlian saya. Saya belum punya kapasitas yang memadai untuk jadi pembahas, jawab saya. Tapi dia malah bilang, dosen pembimbing saya yang merekomendasikannya. Terdiam cukup lama dan berpikir, haruskah saya menyanggupi ini ? Pada saat bersamaan saya teringat bapak dosen itu, yang sudah membimbing saya sampai lulus. Kebaikan hatinya. Kesempatan yang dibentangkannya untuk saya.

Dan, di sanalah saya hari itu. Duduk diantara para pakar. Tentu saja saya bukan pakar, biasanya pakar kan tua...saya ? masih hijau, muda, dan menggoda, yang ini bisa dibilang fakta..hehhehhe. Saya merasa salah tempat. Harusnya saya duduk di jajaran kursi peserta, turut menyimak penuturan para pembicara. Bukannya di sini, sibuk berpikir saya nanti harus membahas apa, berbicara apa, berteori yang mana. Mendadak saya ingin kabur saja. Tapi alasannya apa ? Sakit perut. Klise. Pingsan. Tidak bisa akting pingsan. Epilepsi. Masa epilepsi, nanti saya dibawa ke rumah sakit siapa yang bayar....

Pembicara-pembicara itu semuanya berpengalaman, berilmu luas dan tentu saja jam terbangnya sudah tinggi. Sementara saya ? Sangat jauh dari itu semua. Bahkan moderatornya saja adalah dosen saya, yang mengenalkan saya pada bidang keilmuan ini sejak dari nol. Ahhh..semakin terbanting-banting kepercayaan diri saya. Menukik turun menyusup jauh ke dasar bumi.

Rasanya saya ingin berlari, membelah ruangan dan tidak kembali lagi. Tapi saya terlanjur di sini. Sibuk sendiri mengatur teori sedangkan hati semriwing tidak tenang. Terlebih lagi, saya belum mempelajari materi yang akan disampaikan oleh pembicara karena baru diberikan kepada panitia pada hari itu juga. Jadi tidak sempat saya baca di rumah.

Pada saat seperti itu, saya pun mengutuki diri sendiri yang sering mengomentari pembicara di talk show, saya menyesali diri yang seringkali mengeluhkan dosen yang kurang pintar memberi penjelasan, penceramah yang membosankan, guru yang bikin ngantuk dan presenter yang tidak sistematis. Sekarang saya merasa terkena karma telah menjelekkan mereka semua. Sekarang saya mulai menghargai usaha keras mereka untuk bisa berbicara di depan banyak orang.

Ternyata, bicara di depan umum itu tidak selalu gampang.

Apalagi di forum seminar seperti ini. Kalau di depan kelas, masih okelah kalau saya keseleo lidah atau tersendat-sendat menjelaskan, toh audiennya teman-teman sendiri yang paling cuma akan meledek. Harga diri saya tidak jatuh-jatuh amat kalau yang meledek mereka. Tapi di sini...., audiensnya adalah para petani hutan rakyat itu sendiri, mahasiswa dari berbagai universitas, dan celakanya adalah...juga para pakar. Relevansi atas semua yang saya lontarkan pasti dipertanyakan, jika saya bicara ngawur tak berdasar.

Waktupun bergulir, saya tersentak saat moderator memberi giliran bicara kepada saya. Tetapi sepertinya, suara hati saya jelas terdengar bapak dosen itu. Mungkin dag dig dug jantung saya sampai juga di indera keenamnya. Jadilah bapak moderator baik hati itu membatalkan peran saya sebagai pembahas.

Legalah saya....karena cuma diminta untuk berbagi pengalaman saja, tidak membahas materi pembicara. Lebih lega lagi ketika dihadiahi plakat keren dari panitia. Hei....padahal saya cuma berbagi cerita saja lho. Bukannya jadi pembahas, sesuai peran yang diberikan panitia.

gambar dari : http://www.geocities.com/scosmo451/mouth.png

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

12 komentar: on "Tidak segampang itu bicara...."

Pilosopi Bodoh mengatakan...

hee.. cerita yg dibagi mana? heheheh

lina mengatakan...

ga ada ya ? aduh..aduh...*mengaduk-aduk isi tas*

Apatheia_s mengatakan...

iya, aku juga masih sering gitu grogi klo suruh ngomong depan umum. lebih grogi klo pas rapat harus ngomong ma bos2 ituh... hihiihih

Henny Y.Caprestya mengatakan...

asik..asik..ga jadi pembahas, dapat hadiah plakat pula.

lina mengatakan...

Apatheia_s; at least km dah dikenal mereka gitu. lah aku??

Henny : hum iyah..., coba kalo dapat kulkas juga. lah..*ngarep*

Rumah Ide dan Cerita mengatakan...

Ha ha.. pakar emang biasanya tua ya ?
Bahkan pakar pendidikan anak pun tua-tua. (Emang kamu masih hijau?).

Btw bidang study nya kayaknya unik ya? Hutan-hutan gitu, penting tuh.

Ngomong-ngomong plakatnya bisa dijaminkan gak di pegadaian. Ha.ha.

lina mengatakan...

Rumah ide dan cerita :

masih hijau dung, keliatan dari masi bodohnya...hehehe.

masa sih, belajar hutan tuh unik ?

berharap banget tuh plakat bisa jadi jaminan di pegadaian. lumayan buat jaga-jaga. whuehehhe

Sari mengatakan...

Yang penting kan bisa duduk sejajar sama para pakar hehehe

lina mengatakan...

dan maluuuuuuuuu banget, hehehe.

namaku wendy mengatakan...

hihihi bisa demam panggung juga to mbak tapi suskses kan yah sampe dapat plakat gitu, semoga besok diundang lagi;)

Eka Situmorang-Sir mengatakan...

moral of the story:
sering2 telepati kalo gak mau melakukan sesuatu gitu? :D hahhaha

anw, mungkin lain kali dengan persiapan lbh dalam kamu bisa share jd pembahas. Harus mulai lho, kan apapun selalu ada yg pertama toh? :)

obat tradisional hepatitits mengatakan...

sukses selalu dan semangat terus

Posting Komentar

Ingin berbagi opini, atau saran, atau kritik, atau nasehat....silakan sampaikan di sini. Terima kasih atas apresiasinya. Salam hangat selalu dari Lina. Oya, untuk lebih memudahkan berkomentar, gunakan Opera ya.