Blog ini...

sering gonta-ganti templete dan berisi cerita penting nggak penting saat terkena atau tidak terkena badai hormonal

Rabu, 21 Oktober 2009

Bangkit, Melompat, lalu Meningalkan Rutinitas

Flashback sebentar. Mari menumpang mesin waktu menuju masa itu. Ketika saya yang baru lulus bersujud syukur atas karunia-Nya. Saya mendapat pekerjaan yang sesuai dan yang lebih menyenangkan adalah, pekerjaan ini menunjang hobi traveling saya. Itu empat tahun yang lalu...Lah, jadi terlihatlah saya ini sudah tidak muda lagi. Tapi kata Menpora selama masih berumur kurang dari tigalima, bisalah disebut pemuda.

Setahun pertama saya menikmati betul pekerjaan itu. Berangkat kantor di pagi hari, cuma absen, siap-siap lalu meluncur keliling kota, kadang ke luar kota, kadang keliling desa, kadang tersesat di tempat yang indah. Merasa tidak terlalu berdosa karena mendapat paket wisata gratis sambil kerja. Sepulang kluyuran itu, saya balik kantor. Kantor sudah sepi, hanya bisa ketemu satpam dan mereka yang terpaksa overtime dikejar target. Di kantor yang sepi itu, mulailah saya berkutat menyelesaikan laporan hasil kluyuran tadi. Harus selesai hari itu juga kalau besok tidak mau pekerjaan menumpuk. Pernah saya bawa pulang dokumen-dokumen itu ke rumah, yang ada saya malah tertidur di atas hamparan kertas-kertas penting itu. Bukannya beres pekerjaan, malah kacau karena kadang ada saja kertas yang nyelip nggak tau kemana.

Tahun berikutnya, saya dipindah ke bagian yang tidak ada acara jalan-jalannya. Kalau mau, ya jalan-jalan sendiri saat jam istirahat. Nggak enak. Selain nggak ada yang ngongkosin, juga merasa terburu-buru karena jam satu harus sudah tampak manis nampang di depan bos. Intinya, pekerjaan saya tahun itu adalah jadi pegawai kantoran yang rutin datang pagi pulang malam. Pulang malam ? Iyalah...pekerjaan itu seperti belenggu yang memberati kaki saya untuk ngabur pulang sore-sore. Tidak mengapa, di kantor saya banyak temannya kok. Saya bukan satu-satunya si sial yang terpaksa lembur tiap hari. Kadang bekerja malam hari memang memerlukan energi ekstra, otak sudah melambat seperti sepeda yang dikayuh menanjak bukit. Lambaaattt.

Rutinitas seperti itu semakin mempercepat laju turunnya timbangan badan saya. Pernah saya ditolak petugas PMI waktu donor darah gara-gara berat saya di bawah 45 kg. Padahal kan kalo donor bisa dapat bubur kacang ijo gratis....hehehe, maklum penggemar gratisan. Banyak yang bertanya saya ikut program diet apa. Gampang, kata saya, nglamar saja jadi pegawai di kantor saya, dijamin cepat kurus. Padahal makanan berlimpah ruah di meja bersama kalau jam lembur. Entah kenapa teman-teman saya itu banyak yang doyan jajan saat jam lembur. Ada saja yang dibeli. Martabak mesir lah, bebek goreng lah, donat lah, pizza lah, pisang goreng lah...Tapi, makanan itu seperti kereta ekspress, sama sekali tidak mampir di lambung saya, cuma numpang lewat saja.

Rutinitas seperti itu, kadang saya nikmati meskipun telah melumpuhkan banyak dendroit otak saya. Apa sih yang pantas saya keluhkan ? Allah sedemikian baik telah memberi pekerjaan yang enak, gaji oke, teman-teman sekantor yang seperti saudara sekandung, bos yang mengayomi, dan karir yang bisa diharapkan. Namun seringkali semua itu saya pertanyakan dalam keterdiaman saya. Apakah semua ini yang saya ingin raih ? Apa kabar mimpi-mimpi itu ? Apa kabar cita-cita itu ? Kemana perginya sang pemimpi dalam diri saya ? Sudah terjebakkah dia pada rutinitas yang melulu itu.



Sampai kemudian, si pemimpi itu terbangun oleh kata-kata seorang teman kantor yang akan pensiun. Dia cuma berkata begini : "Hati-hati dengan rutinitas ini. Jangan sampai mematikan potensi diri, harus ada kemauan untuk tetap mengupgrade diri loh..."
Hup...dan langsung saja si pemimpi itu terbangun. Mengerjap-ngerjap. Berpikir. Dan tersadar.

Saya mensyukuri apa yang saya peroleh saat itu kok. Tapi saya tidak ingin berada di sana selamanya. Kenapa ? Karena saya memiliki sesuatu yang sangat mengganggu benak, seringkali menarik-narik baju saya dan mengajak terbang menggapai impian-impian yang masih saja sama. Impian sederhana, namun tidak mungkin saya perjuangkan jika saya tetap bertahan di tempat nyaman ini. Pendosakah saya ? Durhakakah saya pada Tuhan jika saya menginginkan hal lain selain yang telah diberikan-Nya saat itu ?

Nyatanya Allah membukakan jalan bagi saya untuk melangkah keluar dari tempat nyaman itu, menuntun saya meraih impian-impian itu. Orang-orang berkata saya nekat. Teman-teman kantor cuma geleng-geleng kepala. Bos saya sudah berusaha menahan saya. Tetapi, sahabat-sahabat terdekat malah antusias menyemangati saya mengejar impian itu. Sekarang saya memang belum sepenuhnya dapat merengkuh mimpi-mimpi itu, namun saya yakin sudah berada di jalan yang benar untuk segera bertemu denganya. Bukan jalan yang mulus sih, tidak mengapa asal jalurnya sudah benar. Saat ini, saya sedang menunggu di depan pintunya, ikut antri untuk segera bisa merengkuhnya. Semoga pengejaran saya ini membuahkan hasil.

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

11 komentar: on "Bangkit, Melompat, lalu Meningalkan Rutinitas"

denny mengatakan...

he eh
bener banget
saya setuju sama yg kasi wejangan itu
walau kita kerja dan terikat dengan rutinitas, tapi tetep harus bisa untuk berpikir maju ke depan,ke masa depan kita sendiri..

:D

lina mengatakan...

iyah, mantap kan wejangannya. secara dia dah sepuh gitu...

Sari mengatakan...

Lina, salam kenal yak :)
Aku juga lagi nyoba keluar nih, aku jenuh abis, pengen nyoba kerjaan baru.

lina mengatakan...

Hai Sari,
Jangan keluar dulu bu, sebelum dapet gantinya. cuti aja dulu. Tapi kalo dah ada yang baru, why not...langsung ngaburrrr

Pasang Iklan Gratis mengatakan...

wah semangat ya, semoga mimpinya bisa cepet terkabul,
tapi kayaknya juga berat lho. meninggalkan tempat kerja yang selama ini sudah didudukinya, karena udah kadung terbiasa disana.
tapi kalo buat impian apapun harus dikorbankan. karena impian itu sangatlah penting!
semangat!
Iklan Baris

namaku wendy mengatakan...

waduh mbak itu potonya serius amat yak hehehe
btw bole dunk tu pinjem kertas-kertasnya kayanya bakal berguna wat wen yg lagi insomnia deh, manjur banget kayanya wat ngbubuk:p

Henny Y.Caprestya mengatakan...

mimpi dan cita-cita memang nggak pernah bisa berhenti. dan tidak ada yang salah dengan itu semua. yang salah kalo kita cuma bisa bermimpi sementara hidup kita cuma "jalan ditempat"

teruskan perjuangan meraih mimpimu mbak. semangat!

lina mengatakan...

@pasang iklan gratis :
itulah, memang berat meninggalkan tempat nyaman itu...tapi gak papalah, daripada penasaran. anyway...thx yah semangatnya. Hup....makin tinggi deh lompatnya.

@mbak wen :
dipinjem sih boleh, tapi jangan buat nggebuk ya..tar jadi barang bukti saya yang bingung. potonya tuh cuma akting kok mbak, sok sok serius gitu deh.

@Henny :
iyah, jalan di tempat tuh ga enak banget deh....neil amstrong aja dah sampe ke bulan...

Pilosopi Bodoh mengatakan...

Saya juga sedang merasa tak berkembang dgn rutinitas ini,... tapi ya mau gimana lagi, kerjaan enak, gaji cukup... (bersyukur)...


paling mengembangkan diri secara mandiri...

secangkir teh dan sekerat roti mengatakan...

rutinitas membosankan, tapi kalo terlalu banyak variasi, jadi gak inget apa2,, he

lina mengatakan...

@pilospoi bodoh : kalo gitu cari pengembangan diri di luar kantor aja. Yuk....barengan carinya. whehehe..

@secangkir teh dan sekerat roti : iyah, betul, musti kreatif variasi, biar ga jenuh dan bosan. misalnya mengundang saya ke kantor untuk minum teh dan makan roti isi daging...hehehe

Posting Komentar

Ingin berbagi opini, atau saran, atau kritik, atau nasehat....silakan sampaikan di sini. Terima kasih atas apresiasinya. Salam hangat selalu dari Lina. Oya, untuk lebih memudahkan berkomentar, gunakan Opera ya.