Blog ini...

sering gonta-ganti templete dan berisi cerita penting nggak penting saat terkena atau tidak terkena badai hormonal

Tampilkan postingan dengan label uya kuya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uya kuya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Desember 2009

Merasa Kaya




Mungkin ini sudah tidak up to date untuk dibahas, soalnya tayangan ini sudah lama diputar di stasiun tivi. Kira-kira tiga minggu yang lalu. Tapi saya pura-pura nggak peduli tentang up to date atau enggaknya. Well, oke saya tetap akan keukeuh cerita deh. Ingat, saya kan tukang ngeyel. Hehehe….
Pernah melihat acara yang diproduseri Uya Kuya ? Reality show yang menampilkan kehebatannya menghinoptis orang-orang yang ditemuinya. Mulai sekarang, ati-ati deh kalau jalan-jalan terus ketemu bapak ini. Bisa-bisa rahasia terdalam kita terkuak dan disaksikan umat manusia setanah air. Kalau siap sih nggak papa. Toh sebelum acara ini ditayangkan, selalu ada persetujuan dari pihak-pihak yang terlibat. Jika korban yang dihipnotis tidak setuju dirinya jadi bahan tertawaan atau sasaran belas kasihan orang banyak, bisa dibatalkan untuk ditayangkan kok. Batal terkenal juga dong. Hayo…mau terkenal atau aibnya terbuka ?
Saya tidak akan mengupas tentang acara itu dari sisi KPI. Saya ingin membahas tayangan ini dari sudut pandang saya sendiri sebagai seorang pemirsa yang berhak mempelajari sesuatu dari apa-apa yang ditontonnya. Jadi, Om Uya Kuya boleh berbangga karena salah satu acaranya mampu mencerahkan saya.
Di episode yang saya tonton untuk pertama kalinya itu, terlihat Uya bertemu dengan seorang ibu dengan bocah kecil di gendongannya. Sepertinya mereka bertemu di salah satu jembatan penyebrangan ibu kota, entah tepatnya dimana saya tidak tahu. Dialog yang melekat kuat dalam ingatan saya sewaktu Uya bertemu dengan ibu itu, kurang lebih seperti ini :

Uya : Ibu ngapain di sini ?
Ibu  : Mengemis
Uya : Ibu sudah makan ?
Ibu : Belum
Uya : Ibu tinggal dimana ?
Ibu : (Saya lupa jawabannya, kok sepertinya kolong jembatan ya…ada yang tahu ?)
Kuya : Ini anak ibu ?
Ibu : Iya
Kuya : Kenapa ibu mengemis ?
Ibu : Terpaksa, suami saya nggak kerja.

Itu dialog sebelum Uya menghinoptis ibu yang kira-kira berumur empat puluh tahunan itu. Mari kita dengar (apa baca ya) dialog setelah terjadi penghipnotisan terhadap ibu, yang kata saya kok ya sedang apes itu.

Uya : Ibu ngapain di sini ?
Ibu  : Mengemis
Uya : Ibu sudah makan ?
Ibu : Tadi sih sudah
Uya : Ibu tinggal dimana ?
Ibu : Di dekat-dekat sini.
Uya : Ini anak ibu ?
Ibu : Bukan, ini nyewa. Seharinya 20 ribu.
Uya : Busyet deh…20 ribu, mahal juga. Ibu kenapa nyewa anak ?
Ibu : Biar dikasihani, kalo ada anak kecil kan banyak yang kasihan
Uya : *melongo, sama kayak saya*
Uya: Ibu kenapa mengemis ?
Ibu : Iseng aja. Habis enak sih, dapat duit banyak. Nggak usah capek-capek kerja.
Uya: *melongo lagi*
Uya: emangberapa penghasilannya ?
Ibu: ya…sebulan sih bisa sampai 4 juta, kadang kalo lagi rame bisa 8 juta.
Uya: *nelen ludah*
Uya: apa gua ngemis aja yak. Hahahha. Loh emangnya suami ibu dimana ?
Ibu: ada, di rumah.
Uya: ibu punya rumah ?
Ibu: punya, rumah saya yang di kampung malah gedongan.

Eits…..gemes dengarnya ? Saya juga. Kenapa sih, ibu itu nggak malu menengadahkan tangan dan meminta pada orang-orang yang melintas di depannya. Rasa malunya dimana ? Mungkin rasa malunya sudah tergerus kemalasan untuk bekerja keras tapi pengen hidup enak.
Satu hal yang saya catat adalah, orang-orang seperti itu tidak akan pernah merasa kaya. Sebab hatinya terlalu sempit untuk memaknai arti kaya yang sesungguhnya. Masih mending seorang janda yang saya kenal, yang rumahnya pantas diikut sertakan dalam bedah rumah, tapi nggak pernah menengadahkan tangan dan menjual ekspresi memelasnya demi mendapatkan uang dengan mudah. Ibu janda itu, usianya nyaris enam puluh tahun, tetapi masih kuat memanggul dagangan keliling dari satu gang ke gang yang lain. Bahkan tak jarang saya diberikan gratisan kue bikinannya yang enak.  
Bagi saya, ibu janda lebih kaya dibandingkan ibu pengemis.


read more...