Melanjutkan tema kemarin. Saya merasa tertampar dengan
komen sahabat kita, Bung Munir Ardi. Benar kata beliau itu, sebaiknya kita
tidak hanya mencaci, tapi juga memberi solusi. Semalam saya merenung, kira-kira
solusi untuk orang-orang yang terpaksa dan tidak terpaksa mengemis itu apa ya ?
Terus, saya, yang hanya bagian dari masyarakat ini, harus bagaimana ya ? Saya
kan belum jadi seseorang yang memiliki wewenang untuk membuat suatu kebijakan
riil untuk mengatasi problem sosial ini. Tapi, apa iya, menunggu jadi pejabat
dulu baru bisa mengatasi permasalahan sosial semacam ini ? Skip dulu saja
pertanyaan saya ini.Mari diskusi bersama. Lah…siapa yang mau diajak diskusi ?
Sebelumnya,
saya ingin menggolongkan pengemis menjadi dua kelompok. Jadi biar clear
permasalahan ini.
Pertama, orang yang
mengemis karena alasan kepepet.
Orang yang lanjut usia, janda tua, anak yatim piatu dan orang
cacat termasuk dalam golongan pertama ini. Mereka terpaksa merendahkan martabat
untuk menengadahkan tangannya karena keterbatasan yang dimiliki. Saya nggak
akan mencaci golongan pertama ini. Justru, keberadaan mereka haruslah saya
syukuri, karena mereka bisa mengantar saya ke surga saat harta yang diberikan
Allah pada saya, saya kembalikan kepada-Nya melalui tangan mereka.
Well, meskipun demikian bukan berarti orang-orang seperti
mereka itu tidak berhak memperoleh solusi agar dapat keluar dari pekerjaannya
sebagai pengemis. Mereka tetap harus diberikan jalan keluar. Apalagi bagi
anak-anak yatim yang masa depannya masih terbentang panjang.
Kedua, orang yang
mengemis karena alasan nggak mau susah-susah bekerja atau cari kerja.
Biasanya, orang-orang putus sekolah dan yang tidak memiliki
keahlian khusus masuk dalam golongan ini. Well, orang yang pemalas saya
masukkan juga dalam golongan ini.
Nah, setelah kita mengenal kedua golongan tersebut, mulai terlihat kan, akar permasalahannya. Otak saya yang cupet ini, baru dapat
mengidentifikasikan beberapa saja. Mungkin teman-teman blogger bisa
menambahkannya. Saya akan senang sekali…Menurut saya, akar permasalahan
tersebut adalah :
1.
Kesempatan mengakses Pendidikan dan Keahlian
Sudah bukan rahasia jika pendidikan di
negara kita ini masih tergolong mahal, termasuk buku-buku penunjang. Maka tak
heran jika angka putus sekolah juga tinggi. Sebagai contoh, daerah tempat saya
pernah melakukan penelitian, 66,60% penduduknya hanya tamat pendidikan dasar.
Jumlah penduduk yang tamat pendidikan sampai tingkat SMA sebanyak 11,13%
sedangkan yang tamat perguruan tinggi hanya 1,23%. Itu data BPS.
Pendidikan
rendah sebenarnya tidak masalah jika dibekali dengan keahlian dan ketrampilan
tertentu. Sayangnya akses untuk ke BLK juga tidak mudah. Meskipun banyak BLK
yang digratiskan, serapan pasar tenaga kerja terhadap alumni BLK belum banyak
diharapkan. Jika saya salah, mohon dikoreksi.
2.
Proses Pembentukkan Moral
Kegagalan proses pembentukan moral
menyebabkan gagalnya pembentukkan manusia seutuhnya. Hal ini menyebabkan degradasi nilai kemanusiaan, sampai mereka tidak merasa malu untuk mengemis dan malas berusaha untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.
3.
Peran Instansi Pemerintah yang terkait
Seingat saya, di Indonesia sudah banyak ya
Dinas Sosial dan yayasan-yayasan sejenis. Razia gepeng yang sering digelar
memang tujuannya adalah menjebloskan mereka ke kawah candradimuka untuk dilatih
agar bisa mandiri. Nah….itu sudah bagus. Lantas, apa yang salah ? Kenapa banyak
yang melarikan diri dari pusat-pusat pelatihan itu dan balik lagi ke jalanan ?
Mungkin, mungkin loh ya, ini karena mereka tidak benar-benar diarahkan untuk
menjadi mandiri sesuai dengan minatnya masing-masing. Masih ada tekanan dan
paksaan. Jadi keterpaksaan itu yang membuat mereka ingin melarikan diri. Di samping itu, upgrade skill ini seringkali tidak disertai upgrade moral dan mentalnya.
4.
Kesempatan dan Peluang Kerja
Jelas, yang ini jadi masalah. Penyebab
kemiskinan memang kompleks sekali, dan ini adalah biang keladi yang paling utama. Keterbatasan peluang dan kesempatan kerja mendorong pada peningkatan angka kemiskinan.
Lalu, solusinya apa ? Karena saya baru nemu empat akar masalah, maka solusinya pun akan mengarah pada empat hal tersebut.
1.
Kemudahan dalam mengakses Pendidikan dan
Keahlian
Bulshit memang kalau saya katakan pendidikan itu murah. Tapi, bukan berarti itu menghalangi upaya mewujudkan sekolah gratis. Kalau pemerintah belum
siap, masyarakat kita sudah banyak kok yang peduli pada ini. Barangkali kita bisa berperan di sini, baik sebagai donatur, oran tua asuh, atau penyumbang tenaga.
Banyak yang
sudah berinisiatif membangun sekolah gratis. Seperti sekolahnya Ikal di Laskar Pelangi. Hal yang
diperlukan adalah kemauan mereka untuk sekolah serta komitmen para pendidik. Saya pengen banget deh bisa jadi donatur tetap sekolah gratis. Semoga Tuhan mendengarnya.
2.
Proses Pembentukkan Moral
Nah ini dia, yang rumit. Bicara moral kan bicara sesuatu yang abstrak tapi sangat mendasar. Saya akui memang tidak gampang menumbuhkan
kesadaran moral bagi orang lain. Tapi saya percaya, bahwa orang-orang semacam
Mario Teguh, Uje dan Andrie Wongso sebenarnya bisa membantu pembentukkan moral
ini. Saya ngayalnya gini, pemerintah mengadakan semacam Achievement Motivation
Training buat para gepeng ini dan menghandirkan Mario Teguh (atau yang lainnya) sebagai trainernya.
Jelas, tujuannya adalah membantu mereka menjadi manusia utuh.
3.
Peran Instansi Sosial
Instansi sosial mungkin merujuk ke Depsos dan Dinas Sosial ya…..oya,
serta yayasan-yayasan serupa. Pelatihan ketrampilan dan keahlian untuk para gepeng sebaiknya
dilanjutkan pada penyaluran tenaga kerja ke perusahaan-perusahaan. Instansi ini sebaiknya tidak hanya membantu mereka meningkatkan keahlian dan ketrampilan saja, tetapi juga memfasilitasi upgrade mental spiritual. Misalnya ya dengan cara mendatangkan Mario Teguh tersebut, atau tokoh agama yang lain.
Bagi pengemis yang lanjut usia, sebaiknya disalurkan ke panti wreda. Peningkatan fasilitas di panti wreda sebaiknya juga ditingkatkan. Demikian halnya dengan anak-anak yatim piatu yang berkeliaran di jalan-jalan, sebaiknya mereka dimasukkan ke rumah singgah untuk dididik menjadi generasi yang handal. Kaum cacat juga berhak mendapatkan tempat yang layak, dibekali ketrampilan sesuai dengan keahlian masing-masing.
4.
Kesempatan dan Peluang Kerja
Hey...jangan dulu bilang bahwa ini susah didapat. Oke...menurut data statistik memang begitu. Tapi jangan lupa bahwa negara kita ini masih tergolong negara padat karya, banyak pekerjaan yang membutuhkan tenaga manusia. Banyaaaaak banget. Lagipula, jika memang tidak ingin bergabung dengan korporasi besar, bisa kok wiraswasta. Banyak peluang, asal mau berusaha. Ada banyak hal yang bisa dijadikan bisnis. Bahkan bisnis online pun sekarang sudah marak. Nah...kembali lagi masalahnya adalah, persiapan ketrampilan tadi. Jadi untuk sampai pada solusi nomor 4 ini, solusi 1 dan 2 wajib hukumnya.
Saya juga berharap bisa menciptakan lapangan kerja.....
Err...selain itu, pemerintah seharusnya juga berupaya untuk menciptkan iklim investasi yang kondusif. Jadi para investor tidak ketar-ketir menggerakkan uangnya di Indonesia. Kenyataannya sekarang negara malah sibuk ngurus yang enggak-enggak sih...Halah, kaya saya ngerti aja, masalah begituan.
Sudah ah, saya kok jadi lapar ya. Mau makan dulu aja. Jadi, menurut teman-teman bagaimana ?
