Obrolan ini sebenarnya sudah lama terjadi. Teman saya yang
bernama Lia waktu itu sedang giat-giatnya bertanya mengenai ilmu jodoh pada
senior di kantor kami. Salah satunya adalah Pak Hadi, yang awalnya sih serius
menjawab pertanyaan-pertanyaan Lia seputar jodoh. Lah…tapi lama-lama obrolan
mereka makin nggak karuan. Apalagi Pak Hadi ini tipikal orang yang lumayan
kocak yang sering membuat kami tertawa sampai sembunyi di kolong meja karena
khawatir ketahuan bos becanda di waktu jam kerja.
Tentang Istikharah
L : Pak, dulu sebelum menikah istikharah dulu
nggak ?
PH : Lho, Lah iya tho. Istikharah kan penting untuk
meyakinkan diri
L : Wah, Pak Hadi
ni rajin juga ternyata ya.
PH : Yang rajin bukan saya, tapi istri saya. Dia yang
istikharah waktu itu.
L : Loh, kirain
bapak. Lah Pak Hadi kok enggak ?
PH :
Berhubung istri saya sudah istikharah, saya ndak perlu to. Sama saja. Biar dia
saja yang istikharah, yang bingung menentukan pilihan kan dia. Lah dia mungkin
yang bingung, mau nerima saya atau ndak. Wong saya seperti ini. Saya sih siap
menerima jawaban. Ditolak atau diterima.
L : Hooooo……(lalu ngikik), untung diterima ya
pak
PH : Iya, aku juga bingung. Kok jawabannya aku ya….untung
saja
Tentang Kesetiaan
L : Istri bapak manis ya
PH : Wo…ya iya dong
L : Kayaknya Pak
Hadi sayang banget sama istrinya
PH : Iya lah. Cuma dia yang mau sama saya.
L : Kok gitu sih, Pak.
Itulah jodoh. Pak Hadi setia juga ya
PH : Iya….
L : Bapak pengen
cinta ke istrinya langgeng nggak ?
PH : Pastinya….kalau bisa sih awet sampai akhir hayat
L : Wah…so sweet.
Sampai di akhirat juga dong, Pak.
PH : Loh, ya enggaklah
L : Hah, kenapa Pak
kok nggak mau langgeng sampai akhirat ?
PH : Lah nanti ka nada bidadari surga yang lebih
cantik-cantik
L : Dasarrrrrrrrrrr……
