hari melumuri penari dengan duri duri
bergoyang, melenggang, menyebrang ke bayang-bayang
selendang emas dikibas singgah sekejap pada paras pias
jemari menumis mimis di tepi kumis
gamelan melempar angan pada klimaks adzan
lantas menjerit melontar cerita sengit tanpa kata
hanya irama saat isya baru tiba.
tarian melambang kesedihan, kebencian, sekaligus kebahagiaan
meringkus penari saat mengucap doa sebukit
yang tak sempat digendong ke masjid.
kepala bersanggul letih memanggul kembang plastik masgul
mengelak sinar cemar penggemar
hanya ada dia di benak.
gerakan gemulai memulai memagar balai
balai mereka mereka-reka asmara
yang tak mungkin sampai.
hanya ada dia di benak.
