Blog ini...

sering gonta-ganti templete dan berisi cerita penting nggak penting saat terkena atau tidak terkena badai hormonal

Rabu, 23 Desember 2009

Half Man Half Woman




Mereka berempat berkeliaran di jalan depan rumah saya. Beberapa sore saya berpapasan dengan mereka. Spontan saya menepi, merapat ke pagar tetangga dan bersiap teriak jika terjadi sesuatu. Saya takut ? Iya, begitulah. Meski sebenarnya saya tak ingin takut. Ingin bersikap biasa saja dan membiarkan mereka berlalu, toh ternyata mereka tak mengganggu. Hanya imaji berlebih saya saja yang menganggu.
Siapa mereka itu ?
Mereka adalah sekelompok pengamen laki-laki berpakaian wanita. Banci ? Iya, mungkin banci. Mungkin pula hanya berlagak banci. Saya tak tahu pasti. Ada banyak laki-laki tulen yang berpakaian wanita demi mencari uang. Mulai dari pengamen jalanan sampai artis sandiwara terkenal. Orhan Pamuk dalam bukunya yang berjudul My Name is Red juga menyebutkan adanya laki-laki semacam itu yang telah eksis sejak abad 16. Laki-laki tersebut berperan sebagai pendongeng di kedai kopi yang banyak dikunjungi para pelukis dan illustrator di Turki sana. Di Indonesia sendiri, kita biasa bertemu dengan orang-orang seperti itu. Kesenian Ludruk di Jawa Timur banyak mencetak artis-artis laki-laki yang harus berpakaian wanita karena dulu tak banyak wanita yang bergabung dalam grup kesenian drama tradisional tersebut. Tessi alias Kabul merupakan salah satunya. Dia jelas-jelas lelaki sejati, yang juga punya anak, bukan banci. Dia sering berpakaian wanita karena tuntutan peran.
Lalu, bagaimana dengan banci asli. Hehehe, istilahnya ngawur. Iya, banci asli biasanya dikonotasikan negatif oleh masyarakat kita. Saya tidak menyalahkan masyarakat yang memberi stigma negatif tersebut. Saya pun belum bisa menjadi orang yang netral jika berbicara mengenai ini. Kitab suci yang saya baca tidak memperbolehkan seorang lelaki berdandan menyerupai perempuan, demikian pula sebaliknya. Tentu jelas alasannya, itu suatu kebohongan. Orang bisa terkecoh karenanya dan dampaknya tentu buruk. Bisa saja seorang cowok jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek seksi yang ditemuinya di suatu tempat. Eh, setelah hatinya benar-benar jatuh, ternyata baru tahu kalau si cewek seksi itu adalah laki-laki. Hancur pasti.
Kasus seperti ini sudah banyak. Tak perlu menunjuk contoh jauh-jauh, teman SMP saya dulu juga begitu. Teman saya itu wanita tulen, tapi cenderung bergaya cowok. Tomboy. Okelah, kalau sekedar tomboy, taka pa ya. Lah ini, sampai pacaran sama cewek juga. Parahnya cewek yang dipacarinya itu tak tahu kalau dia juga cewek karena gayanya sama persis dengan cowok. Saya termasuk orang yang riwil sering berusaha memberi pengertian padanya bahwa apa yang dia perbuat itu tidak benar. Sebelum semua terlambat, akan lebih baik jika dia sadar bahwa Tuhan menghendaki dia menjadi perempuan sejati. Syukurlah, sekarang dia sudah paham hal itu.
Jika kondisinya memang karena faktor kelainan genetik sehingga meyebabkan perimbangan yang tidak normal pada hormon estrogen dan progesteron, atau karena kelainan anatomis, saya masih bisa mentolerir hal tersebut. Tidak menyalahkan mereka. Misalnya, hormone estrogen pada diri seorang laki-laki lebih banyak daripada hormon progesteronnya sehingga memicu perilaku yang kemayu, maka kesalahan tidak sepenuhnya ada di dia. Itu masalah genetik, kan. Jika dikehendaki, secara medis bisa ditindaklanjuti dengan operasi kelamin.
Lain halnya dengan seorang lelaki sejati yang ingin jadi wanita, dan akhirnya sering kita sebut banci, saya masih kontra dengan hal itu. Oke, sebagai manusia, saya tetap menghormati dan menghargai mereka (meski tetap saja takut jika bertemu). Tetapi, saya belum bisa menerima keputusan mereka untuk menjadi banci yang pada akhirnya berujung pada hubungan sesama jenis. Bagi saya, itu tetap salah. Mungkin saya berpikiran picik, tetapi saya tak akan mengkhianati kitab suci yang saya baca.
Pertanyaan selanjutnya, lalu saya bisa apa ? Jika itu menimpa orang-orang terdekat dan saya kenal, saya sih masih berusaha mencegah lebih jauh. Lah, kalau nggak kenal ?



Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

18 komentar: on "Half Man Half Woman"

Elsa mengatakan...

susah juga ya kalo emang karena alasan genetik. di satu sisi kasihan sekali, mereka merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. tapi di sisi lain, dosa jika kita membiarkannya "jatuh terpeleset".

waktu aku ke Thailand, ada pertunjukan seni dari para banci yang sudah jadi transgender. lelaki yang sudah sama sekali bukan lelaki, operasi sana sini sehingga jadi secantik miss universe. siapapun gak bakalan nyangka kalo pada awalnya dia adalah lelaki, dan itu banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak sekali di sana. ngeri di satu sisi, kasihan di sisi yang lain.

serba salah banget emang.
semoga temannya itu, bisa mengontrol diri ya. amiiiiiiin

Elsa mengatakan...

Hola....
PERTAMAX
selamat pagiiiiiiiiiii

Sari mengatakan...

Aku sendiri, tergantung bancinya. Kalo terlalu 'nggilani'..ya jelas aku takut :)
Tapi, aku suka banget liat pertunjukannya Didik Nini Thowok jaman Beliau masih ngamen depan gedung agung di malioboro...

Dhe mengatakan...

daku punya banyak teman banci, banci asli lg, yang memang suka sama cowo n ga suka sama cewe. dulu daku ga nyangka klo mereka bener2 ada. tp stelah daku alami sendiri. daku sadar klo mereka bener2 ada.

yah! Wallahualam, daku serahin ama Tuhan aja, hanya mereka dan Tuhan yang tau bagaimana mereka n baiknya seperti apa.

Ari mengatakan...

Itulah Seni Peran...
Tapi di kehidupan nyata juga sering kita lihat.
Tapi kita jarang memperhatikan dengan seksama.

Betapa seorang wanita yg sejatinya lemah lembut harus memanggul karung di pasar-pasar.
Sementara si Lelaki berkutat dengan Pakaian kotor di sumur.

mocca_chi mengatakan...

sampe saat ini si belum begiru pernah berteman dengan transgender gitu ya, tpi klo ketemu ya paling dilirik sebentar, cengar cengir dan udahhhh

caca mengatakan...

sebeneernya sempet takut sih... tapi lucu aja kalo ngeliat kelakuan mereka... ^^

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

kadang kasihan liat mereka.

secangkir teh dan sekerat roti mengatakan...

uhm.. ya serba salah juga..
takut juga saya coz pernah disamperin gitu pas lagi makan...
aduh selera makan langsung hilang.. ewkwkwk

RanggaGoBloG mengatakan...

huaaaaa... saya juga paling takut ama yang namanya bencooong.. mending ketemu macan deh dari pada ketemu bencong...

Aditya's Blogsphere mengatakan...

iya....aq sering liat kesenian jenis ini........biasanya untuk teater atau sulap....atau kadang di pernikahan sebagai ikon hiburanya.....bener ga?

Lina mengatakan...

Elsa :
wah..mbak Elsa semangat sekali. Senangnya... Bener mbak, serba salah. Kalau yang di Thailand itu, bener-bener mengecoh ya, cantik...banget sampe nggak keliatan kecowokannya. Bahaya deh tu. :)

Sari :
Heihei...Didi Nini Thowok itu kemana ya, dia seniman hebat.

Dhe :
hem, salut bisa temenan sama mereka. saya aja takut...hehe

Ari ;
begitulah Ri

Mocca_chi :
main mata dong chi, lirik-lirikan...

caca ;
apalagi dengan bahasa gaulnya ya...

Sang Cerpenis bercerita :
kasihan memang...

secangkir teh dan sekerat roti ;
digodain ya...

RanggaGoBloG ;
sama kita yak, takut...

Aditya's Blogsphere :
saya belum liat yang life, baru di tv aja.

thya mengatakan...

banci sama bencong sama gak yah..?
jujur kadang2 pernah ngeri sama mereka, gara2 trauma nih, temen saya pernah ngerjain mereka suatu malam, eh taunya bawa piso lipet segala dah gitu teriak2 pake suara laki nya ...

masya Allah.. sereemm ^^

Lina mengatakan...

thya :
sama kayae, jeng. wah, ngeri bener. iya sih, konon kabarnya memang mereka itu sensitif, jadi jangan diganggu deh..

Bang Aswi mengatakan...

Barusan makan di pinggir jalan, eh, ada pengamen datang dan bernyanyi di belakang. lagunya lucu, ada kata2 bencong segala, padahal dia sendiri bencong. Anak saya malah bilang, "Kok, gak malu nggak pake baju?" Hihihihi....

silviani mengatakan...

makasih gan informasinya

Posting Komentar

Ingin berbagi opini, atau saran, atau kritik, atau nasehat....silakan sampaikan di sini. Terima kasih atas apresiasinya. Salam hangat selalu dari Lina. Oya, untuk lebih memudahkan berkomentar, gunakan Opera ya.